Jumat, 10 April 2015

Ibu Berkobar Cinta-3

JATUH KE DALAM SUMUR


Saat itu, aku sekitar berumur 3 atau 4 tahun. Aku bermain ke rumah teman. Masih tidak terlalu jauh, tetangga, dan masih ada hubungan keluarga. Kakak iparku sedang bekerja di rumah temanku itu. Dan aku asyik bermain-main dengan beberapa teman yang dekat dari rumah tersebut.

Entah apa yang membawa aku, beserta teman-teman ke area sebuah sumur yang pada saat itu airnya lagi kering. Maklum lagi musim kemarau. Dimana-mana banyak sumur yang kering, kecuali di tempat-tempat tertentu saja.

Sampailah pada sebuah permainan yang berbahaya. Aku dan juga teman-teman yang lain main lempar batu ke dalam sumur. Pada saat itu, aku masih belum menyadari arti bahaya itu. Sumur tersebut tidak bertembok pinggirnya, hingga memang rawan kecelakaan. Saat itu aku membawa batu yang cukup besar untuk ukuran umurku. Maka, pada waktu aku lempar batu besar itu, pas tersangkut di sarung yang kuselempangkan di pundak. Tak ayal, aku pun turut serta masuk ke dalam sumur. Untungnya sumur tersebut tidak terlalu dalam. Sekitar 5 sampai 7 meter.

Aku tidak sadar apa yang terjadi. Di dalam sumur, aku masih ingat, menangis sambil memanggil kakak perempuanku.

"Kakak...kakak...tolong!"

Padahal saat itu aku tidak bermain dengan kakakku. Mungkin sudah ngawur, yang terlintas dalam benakku, wajah kakak yang pada saat itu ada entah dimana.


Teman-temanku yang lain pun langsung buyar. Mungkin takut, atau entah seperti apa perasaannya. Memberitahukan pada kakak iparku, kalau aku jatuh ke dalam sumur.

"Apa, jatuh?"

Kakak iparku terkejut dan langsung menuju lokasi kejadian. Tanpa berpikir dua kali, ia masuk ke sumur, menolongku. Aku tidak mengalami luka yang serius. Hanya lecet-lecet, dan mungkin ada tulang yang 'roga.'

Kabar tentang aku yang jatuh ke sumur pun menyebar. Para tetangga banyak yang berdatangan. Dengan beragam perasaan simpati. Pada saat itu lagi bulan puasa. Kata orang rumah, 'locanan.' Bermain atau mengerjakan sesuatu harus hati-hati. Cenderung berakibat celaka. Aku ditawari makan pisang.

"Enggak, kan aku puasa."

Ibu baru pulang dari sumber mencuci pakaian. Belum sampai di rumah sudah mendengar kabar kalau aku jatuh. Tangis pun pecah saat itu juga. Sesampainya di sisiku, ibu yang sedang menangis langsung merengkuh dan memelukku. Aku damai dalam pelukan kasih ibu. Dalam hati aku berkata,

"Jangan cemas Ibu, aku tidak apa-apa kok!"

Tentu saja, sebagai orang tua akan merasa cemas akan kondisi anaknya yang jatuh. Pikir ibu, aku jatuh di sumur dekat rumahku. Memang, sumur di dekat rumahku itu cukup dalam. Sekitar 15 meteran lebih. Kalau jatuh di sana, mungkin aku tinggal nama saja. Meninggal, menemui yang kuasa. Masya Allah.

Sekitar sepekan aku tidak ke mana-mana. Masih trauma, dan sakit karena jatuh pun masih terasa. Aku sudah dibawa ke tukang pijat. Katanya tidak apa-apa. Ya, Alhamdulillah, kalau aku tidak apa-apa.

Tentu saja rasa cemas ibu masih membekas hingga saat ini. Wajah itu begitu teduh, damai dalam pelukan ibu. Aku tidak bisa melupakan suara lembut ibu. Juga elusan kasih sayangnya yang tidak mungkin tergantikan oleh siapa pun juga.

Ya Allah, ampunilah ibuku, ayahku, yang telah memberi bekal kehidupan padaku, hingga aku besar dan dapat melakoni kehidupan ini. Amin!


Smp, 23/03/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar