Kamis, 26 Maret 2015

MENAUT RIAK CINTA(NYA)

MENAUT RIAK CINTA(NYA)
Jejak tilas kepulangan
mentari karam di palung senja
sejak kicau gagak bermuara lesap
di sepanjang tarian utas bercagak
Jalan langit pintu berderit
langkah pun kandas, dijemput Robb
basah tanah, terhunjam 'selamat'
di bantaran jembatan taubat
Deras,
laut pun berucap tahmid, tahlil
mengepul jiwa menderas
tentang ada, dalam tiada, fana
mencengkeram roh berbaris sigap
Lenguh napas pun tersingkap
merajam rindu, cinta bertalu
nafirikan laksa sesal
di ujung ajal tiada tertanam
Ibu,
Samudra cintamu berpujangga
tentang keriput ilalang
bertasbih dalam diam, senyap
di palung degup hati terdalam
Ibu,
Dalam rengkuh rinduku
cintamu bertabur mahligai
aku rebah dalam doa
menunggu titah erat menjamah
Ibu,
Doaku mengeja alif namamu
pada setiap hela angin surga
di relung cinta-Nya
Amin!
Smp, 24/03/2015

Senin, 23 Maret 2015

Ibu Berkobar Cinta -2

SAAT AKU SAKIT


Seperti kanak-kanak pada umumnya, aku juga terkadang sakit. Biasa, karena masuk angin atau tersebab oleh lainnya. Pada saat demikian, aku harus istirahat total. Tidak boleh bermain, tidak bisa bergurau dengan teman-teman. Tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, hanya tidur dan istirahat.

Pada saat itu, yang jadi embun penyejuk hanyalah ibu. Ya, ibu yang menjadi tumpuan rasa sakitku. Kata-kata yang lembut, dan elusan tangan ibu, membuat aku serasa damai. Tenang dalam rengkuh peluk ibu dengan laksa cinta.

Lebih dari itu, biasanya ibu akan membuatkan akau bubur, atau jamu yang entah bagaimana cara buatnya. Yang masih terinngat dalam benakku, biasanya ibu akan membakar pangkal linggis (rajang, Madura) sampai berwarna merah, kemudian dicelupkan ke racikan jamu. Karena enak dan manis aku suka sekali dengan jamu racikan ibu ini.

Jamu semacam itu sekarang sudah tidak zamannya lagi. Sudah tersedia di toko-toko obat maupun di warung-warung terdekat. Masa aku dulu, jangankan uang untuk berobat, untuk makan saja susahnya luar biasa. Ya, itu dulu, dan Alhamdulillah, saat ini segala obat sudah tersedia dan harganya terjangkau.

Masih terasa hangat pelukan ibu saat aku sakit. Atau elusan cinta dengan kata-kata lembut yang menentramkan hatiku. Aku merasa tenang dan damai manakala ibu ada di sisiku. Melihat raut cemas ibu, adalah kenikmatan sendiri yang tiada tara.


Pada suatu ketika, aku dan keluarga menghadiri suatu undangan. Entah undangan apa , aku sudah lupa. Aku masih sangat kecil waktu itu. Tetapi, aku sudah kuat berjalan meski jarak sangat jauh. Mungkin karena bersama-sama, ramai, dan menyenangkan.

Saat pulang, entah karena apa aku terserang demam. Sebenarnya aku sudah tidak kuat untuk berjalan. Namun karena aku tidak ingin merepotkan ibu, aku masih mencoba berjalan dengan sisa-sisa tenagaku. Meski akhirnya aku harus menyerah.

Ya, Allah. Saat itu, ibu menggendongkku dengan susah payah. Meski tidak kudengar keluhannya, tapi rasa lelah pasti ada. Aku merasa berdosa bila teringat kejadian itu. Walaupun tidak oleh kesengajaanku. Allahu Akbar! Benar memang kasih ibu tak terhingga sepanjang masa.


Smp, 23/03/2015

Ibu Berkobar Cinta -1

IBU BERJUANG SENDIRI


Kata ibu, juga kata saudara-saudaraku, kata paman dan tetanggaku, aku lahir dari rahim ibu tanpa disambut oleh ayahku. Pada saat aku dilahirkan, ayah lagi berjuang di negeri orang untuk nafkah keluarga besarku. Jadi ibu, ditemani oleh kakak-kakakku, juga dukun beranak, yang pada saat itu masih sulit adanya bidan, yang menyambut kelahiranku ke dunia ini.

Aku enam orang bersaudara. Aku anak kelima, di bawahku masih ada adikku lagi. Jadi, aku termasuk keluarga besar. Ya, pada saat itu masih belum ada program KB, atau memang ada, tetapi ibuku tidak tersentuh oleh program 'dua anak cukup' tersebut.

Malam hari, dengan proses yang cukup melelahkan, aku lahir ke dunia. Menghentak, menangis,  menerjang, menikmati kebebasan yang selama kurang lebih 9 bulan lamanya, menghuni rahim ibu yang hangat. Gelap dalam terang yang berbinar, atau pengap dalam kehangatan cinta dan kasih ibu.
Ibu, dengan kesabaran yang luar biasa, dari raut wajah yang menerima apa adanya, menimang dan mengasuhku dengan cintanya. Cinta yang tidak pernah tergantikan oleh siapa pun. Kasih yang selalu ada sepanjang waktu. Sabar yang tulus terpatri dalam keikhlasan yang tiada tanding.

Maka, aku pun dibesarkan oleh kasih sayang ibu. Aku belajar, bagaimana ibu berjuang. Berjuang untuk menahan lapar. Berjuang untuk terus bersyukur dengan kondisi apa pun. Belajar bertahan hidup, dengan kondisi ekonomi yang jauh dari kata sejahtera. Makan dengan seadanya, bahkan mungkin saja ibu tidak makan demi anak-anak yang harus kenyang. Begitulah cinta ibu, ia akan lapar paling duluan, dan kenyang paling  belakangan. Semua demi rasa cinta yang mengalir di darah ibu yang merah. Sebuah keberanian hidup, rasa tanggung jawab untuk anak yang tak lekang oleh cinta. Ya, cinta ibu tak pernah lapuk, hingga hayat menjemput.

Perjuangan ibu belum berakhir. Ya, ibu terus melawan berbagai tantangan. Selalu ada dalam setiap saat, waktu serasa tak cukup untuk sebuah cinta. Ya, cinta ibu yang terus mengalir sepanjang masa.


Smp, 22/03/2015

KISAH SEDIH WANITA PENGHIBUR; JUGUN IANFU

KISAH SEDIH WANITA PENGHIBUR; JUGUN IANFU
PAHLAWAN PEREMPUAN YANG TERKORBANKAN LAHIR DAN BATIN
(Apresiasi Puisi Haidar Hafeez: Happy Birthday Indonesia)
 
Pendahuluan
 
Sungguh, saya termasuk salah seorang yang terlambat dalam meng-up date informasi. Salah satunya adalah kisah perempuan muda Indonesia yang dipaksa untuk melayani nafsu birahi tentara Jepang. Betapa miris hati saya, saat membaca beberapa artikel yang terkoneksi dengan kisah pilu ini. Kisah yang menyayat hati. Perempuan-perempuan suci yang melacurkan diri karena kekejaman dan keserakahan penjajah (Jepang). Dipaksa, diperkosa, diintimedasi, dan bahkan mengerang dalam jerit sisa hidupnya yang terkorbankan. Mereka bahkan mengorbankan nyawa.
 
Tiba-tiba air mata saya menetes. Deras mengalir, mengiringi kelana jiwa resah Jugun Ianfu. Hatiku menjerit, melolong, dan berteriak laknat penjajah keparat. Saya hanya mampu membayang, betapa air mata jiwa perempuan muda, yang dirampas paksa oleh para penjajah, menganak sungai, mengalir membasahi bumi pertiwi. Tetapi mereka tidak berdaya, sekalipun jiwa berontak untuk terlepas dari kubang neraka. Hanya pilu hati yang terus menghantam dinding-dinding barak, sebagai saksi sunyi di antara nafsu iblis yang terus menggorogotinya.
 
Jugun Ianfu adalah ibu saya. Ibu Anda dan pahlawan yang tak bertanda. Betapa mereka terus berjuang, meretas jaring-jaring penjajahan, dan merajut benang-benang kemerdekaan. Jugun Ianfu adalah cinta saya, kekasih saya, yang selalu hadir dalam jiwa merdeka. Mereka terus berteriak nyaring, melolong menembus langit ke-tujuh. Melahirkan generasi pejuang, dari rahim pengorbanan yang tidak bisa dinilai.
 
Sehubungan dengan kisah pilu ini, balada cinta tanah air dengan selaksa pengorbanan, Haidar Hafeez  mengingatkan saya, Anda sekalian, tentang orang-orang suci, yang rela mengorbankan segalanya, kehormatannya, oleh biadab tangan-tangan laknat penjahat. Berikut ini puisi yang saya masksudkan.
 
Apresiasi Puisi Perjuangan Kemerdekaan
 
Haidar Hafeez
HAPPY BIRTH DAY INDONESIA

Kau lahir dari rahim
Perempuan "Jugun Ianfu”

Pasuruan 16/8/13
Jugun Ianfu , perempuan belia yag diculik dan dipiara dibarak militer jepang dijadikan pemuas sex ribuan serdadu Jepang. Ada keyakinan bila ingin menang perang harus pesta sex terlebih dahulu. Perempuan Jugun Ianfu dari vaginanya juga memekik merdeka atau mati.

Dari judul puisi, //Happy Berthday Indonesia//, dengan sangat mudah kita dapat menangkap mau-maksud dari kreator. Yaitu sebagai ungkapan selamat (greeting), atas lahirnya kemerdekaan Indonesia (freedem of independen), dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Sebuah keinginan yang teramat sederhana. Agar Indonesia menjadi bangsa yang sejahtera, bangsa yang bermartabat, bangsa yang punya kredibilitas di mata internasional.

Happy birthday adalah ‘selamat ulang tahun’, sebuah ungkapan rasa syukur kepada Allah swt. atas segala nikmat, karunia, serta pemberian yang melimpah terhadap kita. Uangkapan terima kasih ini, biasanya juga dialamatkan kepada kita, saat hari lahir tiba. Tetapi, apakah sesederhana itu yang kreator puisi inginkan? Mari kita teruskan pada larik pertama puisi ini.

//Kau lahir dari rahim// adalah larik yang pertama. Bukan merupakan kalimat utuh, kerena masih memerlukan frase berikutnya. Kau adalah kita, saya, mereka, dan kalian semuanya tanpa kecuali. Sahabat saya maksudkan dengan pokok kalimat ‘kau’ adalah sebagai part prototo, menyebutkan sebagian, tetapi dimaksudkan untuk keseluruhan. Jadi kita terlahir dari rahim. Rahim secara harfiah adalah tempat kita dibesarkan di dalam kandungan ibu kita masing-masing. Tetapi di sini, adalah rahim yang jauh akan memberikan banyak reaksi, banyak air mata yang terkuras, karena rahim ini adalah rahim suci yang terkorban oleh keserekahan penjajah.

Pada larik berikutnya, dari bentuk puisi kuplet; sebuah stanza dua baris (tidak boleh lebih), dan tujuh larik (juga tidak boleh lebih) adalah  //Perempuan “jugun ianfu”//. Larik kedua ini merupakan enjambemen dari larik sebelumnya. Sehingga kedua larik merupakan satu kesatuan yang utuh, atau dengan kata lain satu kalimat sempurna. Perempuan adalah manusai berjenis kelamin wanita, punya ciri-ciri khusus yang sebagianbesar berbeda dengan laki-laki.

Sementara “Jugun Ianfu”, sahabat Haidar Hafeez menggunakan penanda dua tanda petik sebagai penekanan maksud dalam visi dan misi puisi ini. Bahwa ada perempuan, atau gadis yang terkorbankan oleh kekejaman penjajah, dan bahkan jauh lebih menyakitkan dari itu, mereka terstigma negatif dengan kondisi refleksi mereka. Mereka merasa terkucilkan, ter-marjinal-kan, bahkan merasa malu untuk beraudiensi dengan masyarakat sekitar.
 
Sahabat Haidar Hafeez, mengingatkan kita bahwa hakikatnya dalam HUT kemerdekaan ini, tersebab oleh pengorbanan wanita-wanita suci, yang semestinya kita hormati.
 
Kisah Sedih Wanita Suci
 
Sekilas di bawah puisinya, Haidar Hafeez  memberikan atensi sehubungan dengan Jugun Ianfu. Ia menulis “Jugun Ianfu , perempuan belia yag diculik dan dipiara di barak militer jepang dijadikan pemuas sex ribuan serdadu Jepang. Ada keyakinan bila ingin menang perang harus pesta sex terlebih dahulu. Perempuan Jugun Ianfu dari vaginanya juga memekik merdeka atau mati.”  Dari atensi ini dipahami bahwa perempuan-perempuan Jugun Ianfu juga mempunyai semangat pengorbanan untuk meraih kemerdekaan.
 
Dalam sebuah blognya, Wiyoto mengatakan bahwa, Jugun Ianfu adalah perrempuan penghibur bagi tentara Jepang. Stigma negatif dan pencemaran nama baik yang mereka terima dari masyarakat, serta perasaan bersalah telah membuat mereka berdiam diri tentang pengalaman buruk yang mereka alami. (http://uniqpost.com//77979/cerita-sedih-jugun-ianfu/). Stigma ini semakin menambah luka hati para perempuan Jugun Ianfu. Tetapi mereka tidak berdaya. Mereka pasrah dengan keadaan yang ada. Mereka hanya berserah sepanuhnya kepada Allah swt.
 
Sementara Hilde Janssen (wartawan), pada pembukaan pameran oleh Jan Banning (fotografer) bertajuk “Jugun Ianfu” di Erasmus Huis Jakarta mengatakan,
 
“Pemerintah Indonesia hampir tidak pernah memperhatikan masalah ini. Selama pemerintahan Orde Baru, wanita-wanita ini telah diperingatkan untuk tidak bercerita tentang kisah mereka. Pada saat itu, pemerintah Indonesia khawatir kehilangan peluang perdagangan dan investasi dari Jepang.”
 
Jelas-jelas sebuah pelecehan dan pemerkosaan hak asasi manusia. Tidak ada rasa prihatin terhadap pengorbanan para Jugun Ianfu.  Padahal pengorbana mereka cukuplah besar. Pengorbanan fisik, dan pengorbanan batin. Tetapi mereka tidak mendapatkan tanda jasa. Mereka dibiarkan dalam kesakitan dan kesengsaraan yang luar biasa, lahir dan batin.
 
Padahal, Dr. Hirofumi Hayashi seorang profesor dari Jepang di dalam penelitiannya telah membenarkan adanya praktik Jugun Ianfu (wanita penghibur, PSK, pelacur, perek, lonte, senno’, dsb). Ia mengatakan bahwa ada sekitar 20.000 sampai 30.000 wanita Jugun Ianfu yang dipekerjakan oleh tentara Jepang pada saat perang dunia II. Ini menjadi transparansi indikasi bahwa praktik wanita penghibur benar-benar terjadi.
 
Jugun Ianfu terstigma seumur hidup. Menurut siaran pers dari Musium Kunsthal, para perempuan ini ditarik paksa dari rumah-rumah mereka atau dari jalanan oleh tentara Jepang. Mereka dipaksa bekerja dalam rumah bordil yang dijaga ketat oleh militer. Beberapa di antara mereka akhirnya terjebak di bordil-bordil tak resmi, di barak-barak, pabrik, atau tenda-tenda, atau diseleksi untuk menjadi gundik dari tentara Jepang. Tentu mereka menjadi budak para tantara Jepang karena kekejaman penjajah. Secara nurani, mereka ingin lepas dari setiap bentuk per-gundik-kan, namun tangan-tangan kekar penjajah yang berhati iblis jauh lebih kuat dari tenaga sekadar wanita lemah. Mari kita suarakan bersama, dengan segenap kekuatan yang ada untuk mengangkat derajat wanita-wanita Jugun Ianfu, sebagai ‘pahlawan’ yang harus kita hormati.
 
Terkadang, rasa malu dan perasaan bersalah, menjadi bagian terbesar dari alasan Jugun Ianfu tidak menceritakan kondisinya. Seperti yang diungkapkan oleh Any Yentriyani, Commessioner dan Head of Subcomession, Komnas Perempuan, pada diskusi “Mari Bicara Kebenaran” di Erasmus Huis, senin, 16/08/2010.
 
“Perasaan malu dan takut sering kali membuat perempuan tidak mau mengakui perbudakan yang menimpanya. Selain itu, pengakuan tersebut dianggap sebagai pencemaran nama baik bangsa.”
 
Jugun Ianfu terus diteriakkan untuk dingkat ke permukaan. Masih ada orang-orang yang simpati terhadap keberadaan Jugun Ianfu. Mereka berusaha untuk mencarikan keadilan. Mereka terus berjuang, berdaya upaya untuk memperjuangkan nasib Jugun Ianfu, supaya menajadi manusia yang bermartabat, diakui sebagai bagian dari pembangun bangsa.
 
Sastrawan, Pramoedya Ananta Toer menyampaikan,
 
“Kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang akan menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang menjalani kemalangan itu... Surat kepada kalian ini juga semacam protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun yang lewat.” (http://m.kompasiana.com/post/sejarah/2012/09/25/jugun -ianfu-potret-kelam-wanita-indonesia/)
 
Salah satu protes yang dikemukakan oleh sastrawan terkenal, Pramoedya Ananta Toer ini, menjadi bagian dari sebuah upaya untuk mengangkat derajat wanita Jugun Ianfu. Agar mereka tidak termarjinalkan dengan stigma negatif yang selama ini mereka sandang. Maka salah seorang di antara kita pun, berteriak lantang dengan puisi 2,7, yaitu saudara Haidar Hafeez.  Tentu di antara kita, para sahabat Puisi 2,7, mempunyai pemahaman yang sama tentang perempuan Jugun Ianfu, bahwa mereka adalah bagian dalam menegakkan perjuangan bangsa.
 
Beberapa Nama Jugun Ianfu
 
a.         Emah Kastimah, adalah salah seorang Jugun Ianfu yang terseret ke koridor kekejaman barak militer Jepang.
b.        NyaSengker yang mempunyai nama asli Sumiati, juga salah satu Jugun Ianfu asal Semarang Jawa Tengah. Ia terdampar di sebuah tempat, setelah Jepang menyerah kepada sekutu, yang ia sendiri tidak pernah mengenalnya. Dari orang ini tidak banyak informasi yang bisa diperoleh karena ia telah berada dalam pengaruh sumpah adat setempat.
c.         NyaSembar, nama aslinya Siti Fatimah asal Subang Jawa Barat
d.        Muka Lumi
e.        Mardiyem asal Jogyakarta lahir pada tanggal 7 Pebruari 1929. Ia menceritakan bahwa ia dijadikan sebagai gundik tentara Jepang dengan panggilan Momoye. Ia adalah seorang penyanyi, yang kemudian diming-imingi suatu pekerjaan yang sesuai dengan yang ia harapkan. Sebagai pesandiwara di Kalimantan. Tetapi yang terjadi justru ia dijadikan Momoye, Jugun Ianfu, wanita penghibur oleh tentara Jepang.
f.          Mama Dominggas Unbektu, diketemukan di Pulau Babar Maluku, dalam usia 84 tahun.
 
Tentu masih banyak lagi Jugun Ianfu yang tidak diketemukan. Dengan beragam alasan, baik karena sudah menginggal dunia atau karena merasa malu untuk mengakuinya. Karena, apa yang terjadi pada dirinya, sekalipu tidak ia harapkan, adalah masalah tabu di dalam kehidupan bermasyarakat.
 
Penutup
 
Apa yang dilakukan oleh Jugun Ianfu adalah, apa yang difirmankan oleh Allah swt dalam al-Quran, yang artinya;
 
“Barangsiapa yang melakukan sesuatu tersebab oleh darurat (keterpaksaan), atau perbutan yang tidak disengaja, maka apa yang ia lakukan tidaklah termasuk dosa.” (al-Quran)
 
Demikian, dari sebuah puisi yang sederhana talah lahir sebuah pengakuan eksistensi keadaan nyata di lingkungan kolonialisme Jepang. //Kau lahir dari rahim//Perempuan “Jugun Ianfu//, dua larik tujuh kata, puisi yang memberikan kenyataan pahit tentang kondisi wanita-wanita suci yang dijadikan pemuas sek oleh tentara laknat Jepang.
 
Tentu saja, saya begitu berterima kasih kepada kreator, karena puisinyalah saya bisa mengetahui lebih banyak tentang Jugun Ianfu, pelacur suci yang memberikan pengorbanan lahir dan batin. Tentu pula saya harus mengucapkan permohonan maaf, jika dalam esai apresiatif ini terdapat hal yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan harapan kreator, atau hal lain yang menyinggung perasaan. Untuk yang terakhir ini, sungguh tidak saya sengaja dan tidak saya harapkan.
 
(Sumenep, 20 Agustus 2013)
 
Refrensi :
 
Alquranul Karim
Dokumen/Posting Puisi 2,7
http://uniqpost.com//77979/cerita-sedih-jugun-ianfu/
http://m.kompasiana.com/post/sejarah/2012/09/25/jugun -ianfu-potret-kelam-wanita-indonesia/
http://mayapada-prana.1080831.ns.nabble.com/Jugun-Ianfu-Pemuas-Nafsu-Sex-Sepenggal-Kisah-sedih-td9475,html

http://bukumaniak.blogspot.com/2009/06/rekam-hidup-seorang-jugun-ianfu.html?m=1

Minggu, 22 Maret 2015

SELENDANG EMAK


Mendung masih bergelayut di ufuk. Rintik hujan telah sejak tadi berlalu. Tapi, suasana muram terus saja menghantui pikiranku. Pagi tadi aku dipanggil kepala sekolah. Sudah tiga bulan aku tidak membayar iuran sekolah. Andai saja bapak masih ada, tentu hal ini tidak akan terjadi. Atau paling tidak, ada harapan yang lebih besar untuk terus belajar dengan suasana yang nyaman.

“Kenapa kamu terlihat sedih?” tanya temanku, Andi, saat aku kembali dari kantor.
“Ah, gak kenapa kok. Aku gak sedih!” jawabku berusaha menutupi kepedihan hatiku.
“Yang benar, Umar. Kelihatan kok, kalau kamu sedih!” Andi berusaha mengorek masalahku. Aku dan Andi begitu bersahabat. Dekat sekali, bagai kakak dan adik. Kami selalu bermain bersama.
“Tidak apa-apa. Percayalah, aku baik-baik saja!”
“Ada apa kamu dipanggil ke kantor?”
“Tidak ada apa-apa. Biar saja, aku bisa mengatasi sendiri kok!” aku berusaha menekan perasaan mirisku. Aku tidak ingin membagi masalahku ini dengan temanku. Bahkan dengan Andi yang kuanggap sebagai keluargaku sendiri.
“Ya, udah kalau emang gak ada apa-apa” Andi akhirnya menyerah. Aku lega. Biarlah masalah ini akan aku selesaikan sendiri.

Aku belajar di SMP Negeri 1 Pantai Harapan. Sebuah lembaga sekolah yang berada di dekat pantai. Di sekitar sekolah banyak pohon kelapa yang tinggi menjulang. Angin sepoi-sepoi senantiasa menemani aku dan teman-teman dalam belajar. Gedung sekolah yang sangat megah untuk ukuran di kampungku. Aku senang belajar di sekolahku. Dan aku tidak ingin berhenti belajar, apapun yang akan terjadi. Bahkan, ketika bapakku harus meninggal, karena penyakit liver. Aku akan tetap bertekat untuk terus melanjutkan pendidikanku. Sampai aku meraih cita-citaku, seperti yang diinginkan oleh bapakku.

“Aku ingin jadi guru Pak,” suatu hari ketika bapakku menanyakan cita-citaku.
“Bagus tuh. Sebuah cita-cita yang sangat mulia.” Kata bapakku sambil membenahi jala di baranda rumah. “Jangan seperti Bapak, yang tidak tamat SD ini.”
“Ya Pak. Aku akan terus belajar. Bersekolah sampai setinggi-ingginya.” Balasku dengan semangat yang menggebu-gebu.
“Nah, itu baru anak Bapak yang hebat!” kata Bapak sambil mengacungkan jempol.

Bapak adalah semangatku. Bapak selalu memberikan nasihat agar aku rajin belajar. Jangan pernah menyerah apapun yang terjadi. Bahkan andai pun bapak telah tiada.

“Lhoo, maksud Bapak apa sih?” aku bertanya heran.
“Takdir itu bisa datang kapan saja. ‘Apabila telah datang ajal (kematian) mereka, maka tidak akan diwalkan atau pun diakhirkan sesaat pun’.” Bapak menjelaskan sambil menyitir sebuah ayat al Quran. Entah dari mana bapak mengetahui hal itu. Mungkin dari Ustadz yang tiap kesempatan memberikan ceramah di musholla dekat rumahku.

Sampai saat ini, satu tahun sudah bapak meninggalkan aku dan emak. Pergi selama-lamanya ke hadirat Allah swt. Emak adalah wonder womenku. Ia yang menggantikan tanggung jawab bapak. Emak yang mencari nafkah untuk aku makan, sekolah, dan kebutuhan lainnya. Emak juga yang bertekat untuk terus mengusahakan biaya sekolahku.

“Aku ingin bantu  Emak. Aku ingin bekerja. Mencari uang untuk Emak!” suatu hari aku berkata kepada Emak. Sesaat setelah pulang sekolah. Sesaat setelah Emak datang dari bekerja membantu tetangga di sawah. Upah dari membantu itulah yang dijadikan sebagai bahan untuk makan.
“Kamu boleh membantu Emak. Tapi nanti setelah kamu besar. Sekarang waktunya belajar. Dengan belajar yang rajin Emak sudah bangga. Emak sudah bahagia. Bantulah Emak dengan cara belajarmu yang rajin.” Betapa pun aku meminta ijin pada emak untuk membantu bekerja, emak selalu menolaknya. Emak tidak rela kalau anak semata wayang, bekerja dan mengorbankan pelajarannya. Emak, setali mata uang dengan bapak. Selalu mengedepankan pendidikan. Padahal mereka tidak memiliki pedidikan formal, layaknya orang kebanyakan. Tapi emak dan bapak tidak pernah surut untuk kemajuan pendidikan anaknya.

Malam hari selepas isya’. Aku membuka-buka buku mata pelajaran. Mengerjakan pekerjaan rumah. Atau membaca pelajaran yang telah diajarkan di sekolah. Alhamdulillah, kemampuan berpikirku cukup baik. Sudah menjadi hal biasa, kalau aku mendapat ranking pertama. Aku juga sering kali mewakili sekolah dalam ajang lomba cerdas cermat. Aku termasuk siswa yang pintar.

Di sebelahku emak sedang mempersiapkan bahan-bahan panganan. Seperi biasa, kalau emak tidak bekerja di sawah atau di kebun tetangga, ia membuat jajanan untuk dijual. Dengan cara diajajakan dari satu rumah ke rumah lainnya. Jika jajan buatan emak laku, maka dapat digunakan untuk sekadar mengganjal perut. Tapi, kalau lagi sepi, maka aku dan emak harus lebih bersabar. Bersabar dalam menahan rasa lapar.

“Mak, aku belum bayar iuran sekolah.” Dengan berat hati aku berbicara kepada emak.
“O ya, Emak hampir lupa. Sudah nunggak berapa bulan?” tanya emak. Aku yakin emak bukan lupa. Tapi memang belum punya uang untuk membayarnya.
“Sudah tiga bulan Mak.” Jawabku. Kulihat di wajah emak ada mendung. Menggelantung bagai mau turun hujan. Aku sedih. Aku paham betul kalau emak tidak punya uang. Tapi emak orang yang tidak pantang menyerah. Tidak lekas putus asa.
“Emak usahakan besok.” Kata emak datar.
“Dapat uang dari mana Mak?” aku bertanya heran.
“Sudah, ini urusan Emak. Kamu yang rajin belajar saja.” Emak tersenyum tulus. Tidak ada rasa dipaksakan.

Sebentar kemudian emak masuk kamar. Aku tidak tau untuk apa emak ke sana. Tidak lama kemudian emak keluar.

“Emak mau ke rumah Lik Sri, sebentar,” sambil terus keluar menerobos gelapnya malam.
“Emak mau kemana?” aku mencoba mengejar emak. Tapi emak sudah hilang di kegelapan. Menuju rumah Lik Sri. Ada apa gerangan? Aku juga kurang paham.

Rumah Lik Sri tidak terlalu jauh dari rumahku. Hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Emak sudah terlihat duduk di ruang tamu rumah Lik Sri. Rumah yang sangat mewah. Ada pot bunga warna warni di teras. Sofa lembut menghiasi ruang tamu. Di sofa itulah emak duduk ditemui oleh Lik Sri. Orang yang selalu ada untuk membantu. Lik Sri senantiasa siap untuk membantu orang yang memerlukan bantuan. Ia dan suaminya adalah pegusaha sukses. Tapi mereka juga dermawan.

“Ada apa Mak Umar, malam-malam datang ke sini?” Lik Sri bertanya dengan senyumnya yang khas.
“Anu Lik Sri. Ehm....” emak tidak melanjutkan kata-katanya.
“Katakan saja. Siapa tau saya bisa membantu!” Lik Sri meyakinkan.
“Maaf Lik Sri. Saya perlu uang untuk membayar iuran sekolah Umar.”
“Oh, itu tah? Berapa yang Mak Umar perlukan? Mungkin saya punya.”
“Seratus lima puluh ribu Lik Sri.” Sahut emak sambil mengeluarkan selendang sutra biru dari balik baju. “Ini selendang pemberian Bapak sebagai jaminannya.”
“Tidak perlu itu Mak Umar. Tidak apa-apa kok!”
“Saya tahu Lik Sri. Tapi ini adalah bentuk tanggung jawab saya.”

Sebenarnya Lik Sri tidak meminta jaminan itu. Bahkan ia terus membujuk emak supaya selendang sutra biru itu dibwa pulang. Tapi emak juga bersikokoh. Bahwa itu suatu bentuk tanggung jawab. Jika nanati punya uang, emak akan mengembalikannya dan akan mengambil kembali selendangnya.

Buru-buru aku kembali ke rumah. Pulang dan langsung masuk ke kamar. Di kamar aku manangis sesegukan. Air mata serasa tumpah. Tak terbendung membanjiri basah bantalku. Hatiku begitu terharu. Emak harus menggadaikan selendang pemberian bapak untuk membayar biaya sekolahku. Apa nantinya yanga akan aku berikan sabagai balasan? Apa aku harus berhenti sekolah? Pasti emak akan marah kalau aku harus berhenti sekolah. Sekalipun alasannya untuk membantu emak. Karena pengorbana emak hanya agar aku tetap sekolah.

Keesokan harinya emak memberikan uang untuk bayar iuran. Aku sudah tau semuanya. Tapi aku tidak mungkin mengatakannya. Biarlah aku pendam sendiri. Aku hanya bertekat untuk membantu emak semampuku. Entah apa caranya, yang penting halal.

“Mak, aku berangkat Mak.” Pamitku pagi itu. “Assalamu’alaaikum.”
“Wa’alaikum salam. Hati-hati, dan langsung dibayarkan uangnya!”
“Ya Mak.” Jawabku sambil terus melangkah menuju rumah Andi. Aku dan Andi selalu berangkat ke sekolah bersam-sama.

Sambil berjalan menuju sekolah, aku curhat sama Andi. Aku ceritakan bahwa emak menggadaikan selendang pemberian almarhum bapak untuk membayar iuran sekolahku. Aku ceritakan juga, bahwa emak tidak tau kalau aku melihat dengan kepalaku sendiri, saat emak memberikan selendang kesayangannya itu.

“Kamu kok gak bilang aku Umar? Padahal aku punya tabungan lho!” Andi menyayangkan masalah ini sampai berlarut-larut.
“Aku tidak ingin merepotkan Kamu, Andi”jawabku apa adanya.
“Tapi, ya setidaknya kamu juga ceritakan kepadaku. Toh kamu adalah temanku juga.”
“Aku ngerti Kawan. Tapi aku ingin masalah ini bisa selesai dengan sendirinya. Tanpa melibatkan orang lain.” Aku berusaha tegar. Sekalipun hatiku begitu miris.
“Setidaknya, aku juga bisa dimintai pendapat!” Andi berkata datar. Ada rasa ketidakpuasan dalam bicaranya. Aku paham dengan kata hati Andi.

Sepulang sekolah. Aku dan Andi berencana akan membuat sesuatu yang dapat menghasilkan uang. Aku bertekat untuk mengambil kembali selendang emak. Tentu dengan usaha yang halal. Dan tidak sampai mengganggu pelajaranku. Andi telah memberikan solusi yang tepat buatku. Awal kemarau, adalah waktu yang tepat untuk bermain layang-layang. Selepas panen di sawah, banyak anak-anak, teman sebaya, yang suka bermain layang-layang. Kesempatan ini akan kumanfaatkan untuk menghasilkan uang. Ya, membuat layang-layang bersama Andi dan menjualnya kepada mereka yang menghendaki. Sebuah solusi keuangan yang membanggakan.

“Gimana. Sudah siap?” tanya Andi sore itu.
“Sudah. Ini aku bawa banyak bambu dan benang. Terus, kertas layangannya, gimana?” aku balik bertanya.
“Jangan kwatir. Aku sudah siapkan di belakang rumah. Nanati kita buat disana. Di bawah pohon nangka yang rindang!”.
“Baik. Mari kita mulai sekarang.” Ajakku.

Dengan semangat menggebu-gebu, aku dan Andi membuat layang-layang. Kali ini tidak hanya untuk dimainkan sendiri. Tetapi untuk dijual. Untuk menghasilkan uang. Dan untuk mengambil kembali selendang emak yang digadaikan.

Hari ini, aku membuat layang-layang sebanyak enam buah. Besok, akan dilanjutkan kembali. Membuat layang-layang sebanyak-banyaknya. Untuk dijual kepada anak-anak di sekitar kampungku. Tidak hanya itu, suatu saat nanti jika memungkinkan akan dijual dalam jumlah yang banyak. Mudah-mudahan usaha ini dapat membantu biaya pendidikanku.

Satu minggu kemudian. Aku dan Andi membawa banyak layang-layang ke tanah lapang. Bukan untuk dimainkan. Tetapi untuk dijual. Tidak disangka, ternyata banyak juga yang membeli. Dalam waktu yang tidak bagitu lama, layang-layang buatanku dan Andi telah habis terjual. Dan dari berita mulut ke mulut, layang-layang made in aku dan Andi banyak diminati. Karena seimbang dan mudah diterbangkan. Sejak saat itu, layang-layang tersebut banyak yang mencari.

Satu bulan kemudian. Aku telah mengumpulkan banyak uang dari hasil menjual layang-layang. Aku dan Andi tidak peru lagi minta orang tua untuk sekadar uang jajan. Bahkan aku sudah mempunyai simpanan uang untuk menebus selendang emak.

“Mak, ini selendangnya,” suatu malam aku membawa selendang biru punya emak yang digadaikan. Emak nampak terkejut. Raut wajahnya mengerut. Tidak percaya.
“Kok,...” Emak tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
“Ya, Mak. Aku telah membayar hutang Emak sama Lik Sri. Dari hasil layang-layang Mak!” jelasku bangga. Tentu saja emak bangga dengan usahaku. Emak juga tidak habis pikir, kenapa aku bisa tau kalau selendang emak digadaikan sama Lik Sri. Aku tidak menceritakannya.

Emak menerima selendang yang kuulurkan. Ia lalu menciumnya. Ada semacam rasa rindu yang tak tertahanka. Air mata emak mengembang. Air mata bahagia. Karena sekecil ini, anak semata wayang telah dapat memberikan harapan yang luar biasa.

Alhamdulillahi Robbil  ‘Alamin,” desah emak dengan kebahagiaan yang memuncak.

****

KADO CINTA BUAT IBU


Ibu,
Engkau adalah goa pertapaanku. Tempatku bersemayam, di rahim yang penuh dengan cinta. Sejuk bersama zikir yang Kaulantunkan setiap saat. Hangat bersama peluk rindu dan kasih sayang. Engkaulah ibuku, yang sekian waktu lamanya aku meringkuk di rahimmu yang indah. Penuh kasih. Bertabur cinta. Ibu, aku damai dalam surga rahimmu. Karena Engkau selalu menjagaku. Memilihkan aku makanan dan minuman yang thoyyibah, baik, bergizi, dan sehat. Maka, aku pun tumbuh, besar bersama laksa peluk cintamu yang tak berkesudahan.

Ibu,
Tibalah waktunya aku lahir. Menginjak dunia dengan taruhan sengal napasmu. Dengan cucuran peluh dan keringatmu. Dengan segenap jiwamu, untuk mempertahankan keberadaanku. Engkau taruhkan hidup dan matimu. Engkaulah ibu, yang memantik api kehidupanku. Untukku, anakmu yang Kauharapkan bersama kisah sukses masa depanku.

Aku pun menginjak dunia. Bersama tangis yang mengharapkan air susumu. Aku hadir dengan tangis. Engkau sambut hentak tangisku dengan senyum indahmu. Aku hadir bersama tingkah nakalku, Engkau datang bersama elus dan kasih sayangmu. Sungguh, cintamu berhulu tak berhilir. Sayangmu laksana samudra tak berpantai. Kasihmu adalah bumiku, dan pelukmu adalah langitku.

Ibu,
Engkaulah madrasahku. Tempatku belajar, memperoleh pendidikan. Kaudidik aku dengan cinta dan kasih sayangmu. Kauperlakukan aku laksana dian yang tak boleh padam. Engkaulah guruku, yang menunjukkan siapa Tuhanku.

Engkau ajari aku cara menetek. Engkau ajari aku cara makan dan minum yang benar. Engkau ajari aku cara merangkak, berjalan, dan berlari. Bila aku terjatuh, hatimu merasa luluh. Perasaanmu begitu rapuh, karena tak ingin aku terluka. Namun, Ibu, Engkau tegakan hatimu, sebagai bentuk pendidikan untukku. Untuk kebaikanku. Untuk masa depanku.

Kalimat tauhid yang Engkau ajarkan, adalah bagian dari teori alamiah madrasahmu. Aku pun tumbuh dan besar dengan pengenalan akan Tuhanku. Allahn swt.

Ibu,
Dalam menjagaku Engkau begitu sabar. Engkau selalu tabah. Ikhlas dengan hati yang tulus. Biarpun aku berulah. Meskipun aku bertingkah. Walaupun aku bersalah. Namun, sabar dan ikhlasmu selalu mengiringi langkahku. Tak ada dendam. Tak timbul amarah yang berkepanjangan. Itulah, Engkau ibuku yang selalu jaga untukku.


Waktu tak pernah berlalu tanpa kasihmu. Tanpa sabar dan ikhlasmu. Tak ada waktu luang, baik siang maupun malam. Adamu, Ibu, tanpa berbatas waktu.

Ketika aku masih kecil, damai dalam tidur di sampingmu. Engkau pun tersenyum, karena aku dalam keadaan aman. Jika pun aku terbangun, merengek atau pun dalam hentak tangisku, begitu segera, Engkau merengkuhku, dalam peluk cinta yang bergelora. Aku pun diam, dalam hangat lezat air susumu. Ibu, jagamu sepanjang hayat. Awasmu segenap jiwa cinta yang bersemayam di lubuk hatimu yang paling dalam.

Ibu,
Tak mungkin aku mampu membalas pengorbananmu. Tak mungkin aku kembalikan sepenuh cinta padamu. Karena pengorbananmu tak mungkin bisa kuhitung dengan harta.

Ibu, Engkau selalu berkorban untukku. Berkorban jiwa dan raga. Merelakan segenap waktumu hanya untukku. Bahkan, air matamu membuncah, jika aku tidak nyaman dalam hidupku. Itulah, Engkau Ibu, yang selalu mawas untuk aku, anakmu.

Tak pernah terpikir sedikit pun, jika apa yang telah Engkau berikan, akan diminta kembali suatu waktu. Tidak, sekali lagi tidak. Karena cintamu adalah ikhlas semata.

"Kasih Ibu kepada beta. Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia."[i]

Ibu,
"kalau aku ikut ujia// lalu ditanya tentang pahlawan//namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu//lantaran aku tahu//engkau ibu dan aku anakmu." [ii]

Ibu, Engkaulah pahlawanku. Berkorban demi aku anakmu. Engkau rela dirimu susah, sakit, dan sengsara. Asalkan aku, anakmu tetap dalam damai. Ibu, Engkau pahlawan yang tak bergelar kehormatan. Karena kasihmu adalah cinta yang selalu berpeluk sayang. Memberi, tidak untuk meminta kembali.

Ibu,
Setulus cintamu itulah sifatmu. Karakter yang terpatri, tetap mengembang merbakkan bunga kasturi. Setulus cintamu nan suci. Berkelindan dalam hidupku tanpa henti. Ibu, larik maafmu berdiksi ampunan. Tanpa diminta, tanpa dinyana. Berkelebat bunga-bunga surga, selalu, menyertai aku anakmu. Ibu, muara cintamu berhilir di pelupuk hidup dan matiku.

Selagi gelora kasih, masih hayat bersama napasmu, maka sebagitu tulus nuansa cintamu. Engkau ada untuk napasku. Engkau tercipta untuk detak jantungku. Ibu, biarkan aku dalam kasihmu yang tulus, karena Engkaulah bidadari surgaku[iii].

Ibu,
Sekejap saja aku berlalu dari awasmu, laksa rindumu berpadu. Rindu berpeluk. Rindu mengecup gemas pipiku. Bahkan, biarpun aku sudah dewasa. Teruntuk rindu ini, tertanam, terhunjam, dan berurat berakar di keping hatimu yang paling dalam. Maka, aku pun damai, seiring basah bibir bersama doamu. Terjaga dari beribu marabahaya. Lantaran doa rindu yang Kauhulurkan untukku.

Aku damai bersama doa rindumu. Aku damai bersama ridhamu. Aku damai bersama cinta berkalung pelangi, berselendang aurora cakrawala. Ibu, jangan pernah Kautinggalkan aku, tanpa setulus cinta dan rindhamu.


Ibu,
Kini aku sudah paham. Arti dan kedudukanmu di sisi Allah. Arti dan kedudukanmu di sisi Rasulullah. Betapa besar pengorbananmu untukku, anakmu. Ketika Allah swt berfirman:

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)[iv]

Ibu, jelas sekali dalam ayat ini aku diperintahkan untuk berbakti. Selalu patuh dan ta'at kepadamu. Karena Engkaulah yang mengadungku selama 9 bulan. Menyusuiku selama 2 tahun. Kurang lebih 30 bulan lamanya, aku terus dalam pengasuhan cintamu. Tidak, bahkan untuk selamanya. Selama napasmu masih mampu Kauhela.

"Ribuan kilo jalan yang Kau tempuh. Lewati rintang untuk aku anakmu. Ibuku sayang masih terus berjalan. Walau tapak kaki, penuh darah, penuh nanah. Seperti udara kasih yang Engkau berikan. Tak mampu 'ku membalas. Ibu,..."[v]

Ibu, begitulah, nyanyi itu terus aku dendangkan. Lagu itu menjadi kado cinta untukmu. Untuk ibu yang kasihnya tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Ibu, cintamu masih terus bertahan, meski keringat darah menderas di setiap tapak langkahmu.

Ibu,
Agung tempatmu menjadi perhatian serius dari Rasulullah saw. Beliau menempatkan dirimu di singgasana kehormatan. Maka sabda Nabi pun bersenarai:

"Dari Abu Hurairah radhiyallaahu‘anhu , belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi saw menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)[vi]

Ibu, lantaran kedudukanmu yang begitu terhormat, maka derai air mataku seringkali tertumpah. Menganak sungai. Karena dosa yang telah kuperbuat. Karena salah yang telah kulakukan. Karena kata-kata yang seringkali menyakiti hatimu. Maka, ampunilah aku, Ibu. Maafkankah aku, Ibu. Tanpa maafmu, tanpa ridhamu, aku akan terperosok ke jurang kegelapan yang paling dalam. Akan berkubang di neraka yang paling curam. Ibu, maafkan anakmu ini. Hanya kado cinta yang akan menghantarmu, menuju renta usiamu. Maka tersenyumlah untukku.

Ibu,
Kado cinta untukmu, Ibu, adalah jelma rindu yang menghampar sejuta makna kasih. Katika kembang surga, melantunkan doa-doa, dan Engkau bermunajat bersama sayang kepadaku. Aku pun tersedu, menatap langit, menggores layar kelakuanku. Maka sederat lukisan salah dan dosa padamu, beriring, berbaris, menumpahkan sebentuk pinta. Ibu, pintaku padamu, maafkan segala kesalahanku. Ampuni segala dosaku. Sugguh, bersama kado cinta ini, Engkau dalam peluk cintaku padamu.

Ibu, sebentuk pengharapanku, hapuslah air matamu. Semoga aku mampu menjagamu. Tempat sandaranmu ketika Engkau tak lagi mampu berdiri. Inilah aku, anakmu yang ingin menggantikan detak jantungmu. Aku ingin membagi napasku. Agar Engkau, Ibu, tak bersengal di ujung waktumu.

Ibu, kini Engkau telah renta. Rambutmu sudah memutih. Kulitmu pun sudah keriput. Tapi semangat kasihmu, masih mengalir di relung hatiku. Elusan tanganmu masih terasa nirwana, menyentuh sejuk perasaan kalbuku. Engkau masih ada, biar ujung senja mulai berlipat. Tawamu seindah bunga di taman firdaus.

Ibu,
Semoga aliran doaku ini, mampu membuatmu tersenyum. Memberikan kesejukan nuansa, di haribaan cinta dan kasihmu.

"Robbigh firlii waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbayaanii shoghiraa."

Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu-Ayah), dan kasihanilah keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidikku (dari) kecil."

Ibu,
Di penghujung goresan kado cinta ini, aku, anakmu ingin selalu bersamamu. Ingin selalu di pelukmu. Ingin selalu dalam cinta dan ridhamu. Terimalah kado cinta ini, dan senyum tangismu selalu bermuara di relung kehidupanku. Maafku padamu, Ibu.
***


Note: Teruntuk 100 hari IBU. Doaku selalu untukmu. Dan doamu senantiasa menyertaiku. Amin.



[i] Larik lagu dengan judul ‘Kasih Ibu’ karangan Ibu Sud
[ii] Sebagian dari larik puisi D. Zawawi Imron yang berjudul ‘Ibu’
[iii] Judul lagu ‘Bidadari Surga’ oleh Ust. Jefri Al-Bukhari (alm)
[iv] Terjemah Al Qur’anul Karim (Qs. Al-Ahqaaf : 15)
[v] Larik lagu dengan judul ‘Ibu’ oleh Iwan Fals
[vi] Sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, hadits shahih.