Mendung masih bergelayut di ufuk. Rintik
hujan telah sejak tadi berlalu. Tapi, suasana muram terus saja menghantui
pikiranku. Pagi tadi aku dipanggil kepala sekolah. Sudah tiga bulan aku tidak
membayar iuran sekolah. Andai saja bapak masih ada, tentu hal ini tidak akan
terjadi. Atau paling tidak, ada harapan yang lebih besar untuk terus belajar
dengan suasana yang nyaman.
“Kenapa kamu terlihat sedih?” tanya temanku,
Andi, saat aku kembali dari kantor.
“Ah, gak kenapa kok. Aku gak sedih!” jawabku
berusaha menutupi kepedihan hatiku.
“Yang benar, Umar. Kelihatan kok, kalau kamu
sedih!” Andi berusaha mengorek masalahku. Aku dan Andi begitu bersahabat. Dekat
sekali, bagai kakak dan adik. Kami selalu bermain bersama.
“Tidak apa-apa. Percayalah, aku baik-baik
saja!”
“Ada apa kamu dipanggil ke kantor?”
“Tidak ada apa-apa. Biar saja, aku bisa
mengatasi sendiri kok!” aku berusaha menekan perasaan mirisku. Aku tidak ingin membagi
masalahku ini dengan temanku. Bahkan dengan Andi yang kuanggap sebagai keluargaku
sendiri.
“Ya, udah kalau emang gak ada apa-apa” Andi
akhirnya menyerah. Aku lega. Biarlah masalah ini akan aku selesaikan sendiri.
Aku belajar di SMP Negeri 1 Pantai Harapan.
Sebuah lembaga sekolah yang berada di dekat pantai. Di sekitar sekolah banyak
pohon kelapa yang tinggi menjulang. Angin sepoi-sepoi senantiasa menemani aku
dan teman-teman dalam belajar. Gedung sekolah yang sangat megah untuk ukuran di
kampungku. Aku senang belajar di sekolahku. Dan aku tidak ingin berhenti
belajar, apapun yang akan terjadi. Bahkan, ketika bapakku harus meninggal,
karena penyakit liver. Aku akan tetap bertekat untuk terus melanjutkan
pendidikanku. Sampai aku meraih cita-citaku, seperti yang diinginkan oleh
bapakku.
“Aku ingin jadi guru Pak,” suatu hari ketika
bapakku menanyakan cita-citaku.
“Bagus tuh. Sebuah cita-cita yang sangat
mulia.” Kata bapakku sambil membenahi jala di baranda rumah. “Jangan seperti
Bapak, yang tidak tamat SD ini.”
“Ya Pak. Aku akan terus belajar. Bersekolah
sampai setinggi-ingginya.” Balasku dengan semangat yang menggebu-gebu.
“Nah, itu baru anak Bapak yang hebat!” kata
Bapak sambil mengacungkan jempol.
Bapak adalah semangatku. Bapak selalu
memberikan nasihat agar aku rajin belajar. Jangan pernah menyerah apapun yang
terjadi. Bahkan andai pun bapak telah tiada.
“Lhoo, maksud Bapak apa sih?” aku bertanya
heran.
“Takdir itu bisa datang kapan saja. ‘Apabila telah datang ajal (kematian) mereka,
maka tidak akan diwalkan atau pun diakhirkan sesaat pun’.” Bapak
menjelaskan sambil menyitir sebuah ayat al Quran. Entah dari mana bapak
mengetahui hal itu. Mungkin dari Ustadz yang tiap kesempatan memberikan ceramah
di musholla dekat rumahku.
Sampai saat ini, satu tahun sudah bapak
meninggalkan aku dan emak. Pergi selama-lamanya ke hadirat Allah swt. Emak
adalah wonder womenku. Ia yang
menggantikan tanggung jawab bapak. Emak yang mencari nafkah untuk aku makan,
sekolah, dan kebutuhan lainnya. Emak juga yang bertekat untuk terus
mengusahakan biaya sekolahku.
“Aku ingin bantu Emak. Aku ingin bekerja. Mencari uang untuk
Emak!” suatu hari aku berkata kepada Emak. Sesaat setelah pulang sekolah.
Sesaat setelah Emak datang dari bekerja membantu tetangga di sawah. Upah dari
membantu itulah yang dijadikan sebagai bahan untuk makan.
“Kamu boleh membantu Emak. Tapi nanti setelah
kamu besar. Sekarang waktunya belajar. Dengan belajar yang rajin Emak sudah
bangga. Emak sudah bahagia. Bantulah Emak dengan cara belajarmu yang rajin.”
Betapa pun aku meminta ijin pada emak untuk membantu bekerja, emak selalu
menolaknya. Emak tidak rela kalau anak semata wayang, bekerja dan mengorbankan
pelajarannya. Emak, setali mata uang dengan bapak. Selalu mengedepankan
pendidikan. Padahal mereka tidak memiliki pedidikan formal, layaknya orang
kebanyakan. Tapi emak dan bapak tidak pernah surut untuk kemajuan pendidikan
anaknya.
Malam hari selepas isya’. Aku membuka-buka
buku mata pelajaran. Mengerjakan pekerjaan rumah. Atau membaca pelajaran yang
telah diajarkan di sekolah. Alhamdulillah, kemampuan berpikirku cukup baik.
Sudah menjadi hal biasa, kalau aku mendapat ranking pertama. Aku juga sering
kali mewakili sekolah dalam ajang lomba cerdas cermat. Aku termasuk siswa yang
pintar.
Di sebelahku emak sedang mempersiapkan
bahan-bahan panganan. Seperi biasa, kalau emak tidak bekerja di sawah atau di
kebun tetangga, ia membuat jajanan untuk dijual. Dengan cara diajajakan dari
satu rumah ke rumah lainnya. Jika jajan buatan emak laku, maka dapat digunakan
untuk sekadar mengganjal perut. Tapi, kalau lagi sepi, maka aku dan emak harus
lebih bersabar. Bersabar dalam menahan rasa lapar.
“Mak, aku belum bayar iuran sekolah.” Dengan
berat hati aku berbicara kepada emak.
“O ya, Emak hampir lupa. Sudah nunggak berapa
bulan?” tanya emak. Aku yakin emak bukan lupa. Tapi memang belum punya uang
untuk membayarnya.
“Sudah tiga bulan Mak.” Jawabku. Kulihat di
wajah emak ada mendung. Menggelantung bagai mau turun hujan. Aku sedih. Aku
paham betul kalau emak tidak punya uang. Tapi emak orang yang tidak pantang menyerah.
Tidak lekas putus asa.
“Emak usahakan besok.” Kata emak datar.
“Dapat uang dari mana Mak?” aku bertanya
heran.
“Sudah, ini urusan Emak. Kamu yang rajin belajar
saja.” Emak tersenyum tulus. Tidak ada rasa dipaksakan.
Sebentar kemudian emak masuk kamar. Aku tidak
tau untuk apa emak ke sana. Tidak lama kemudian emak keluar.
“Emak mau ke rumah Lik Sri, sebentar,” sambil
terus keluar menerobos gelapnya malam.
“Emak mau kemana?” aku mencoba mengejar emak.
Tapi emak sudah hilang di kegelapan. Menuju rumah Lik Sri. Ada apa gerangan?
Aku juga kurang paham.
Rumah Lik Sri tidak terlalu jauh dari
rumahku. Hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Emak sudah terlihat duduk di
ruang tamu rumah Lik Sri. Rumah yang sangat mewah. Ada pot bunga warna warni di
teras. Sofa lembut menghiasi ruang tamu. Di sofa itulah emak duduk ditemui oleh
Lik Sri. Orang yang selalu ada untuk membantu. Lik Sri senantiasa siap untuk
membantu orang yang memerlukan bantuan. Ia dan suaminya adalah pegusaha sukses.
Tapi mereka juga dermawan.
“Ada apa Mak Umar, malam-malam datang ke
sini?” Lik Sri bertanya dengan senyumnya yang khas.
“Anu Lik Sri. Ehm....” emak tidak melanjutkan
kata-katanya.
“Katakan saja. Siapa tau saya bisa membantu!”
Lik Sri meyakinkan.
“Maaf Lik Sri. Saya perlu uang untuk membayar
iuran sekolah Umar.”
“Oh, itu tah? Berapa yang Mak Umar perlukan?
Mungkin saya punya.”
“Seratus lima puluh ribu Lik Sri.” Sahut emak
sambil mengeluarkan selendang sutra biru dari balik baju. “Ini selendang
pemberian Bapak sebagai jaminannya.”
“Tidak perlu itu Mak Umar. Tidak apa-apa
kok!”
“Saya tahu Lik Sri. Tapi ini adalah bentuk
tanggung jawab saya.”
Sebenarnya Lik Sri tidak meminta jaminan itu.
Bahkan ia terus membujuk emak supaya selendang sutra biru itu dibwa pulang.
Tapi emak juga bersikokoh. Bahwa itu suatu bentuk tanggung jawab. Jika nanati
punya uang, emak akan mengembalikannya dan akan mengambil kembali selendangnya.
Buru-buru aku kembali ke rumah. Pulang dan
langsung masuk ke kamar. Di kamar aku manangis sesegukan. Air mata serasa
tumpah. Tak terbendung membanjiri basah bantalku. Hatiku begitu terharu. Emak
harus menggadaikan selendang pemberian bapak untuk membayar biaya sekolahku.
Apa nantinya yanga akan aku berikan sabagai balasan? Apa aku harus berhenti
sekolah? Pasti emak akan marah kalau aku harus berhenti sekolah. Sekalipun
alasannya untuk membantu emak. Karena pengorbana emak hanya agar aku tetap
sekolah.
Keesokan harinya emak memberikan uang untuk
bayar iuran. Aku sudah tau semuanya. Tapi aku tidak mungkin mengatakannya.
Biarlah aku pendam sendiri. Aku hanya bertekat untuk membantu emak semampuku.
Entah apa caranya, yang penting halal.
“Mak, aku berangkat Mak.” Pamitku pagi itu.
“Assalamu’alaaikum.”
“Wa’alaikum salam. Hati-hati, dan langsung
dibayarkan uangnya!”
“Ya Mak.” Jawabku sambil terus melangkah
menuju rumah Andi. Aku dan Andi selalu berangkat ke sekolah bersam-sama.
Sambil berjalan menuju sekolah, aku curhat
sama Andi. Aku ceritakan bahwa emak menggadaikan selendang pemberian almarhum
bapak untuk membayar iuran sekolahku. Aku ceritakan juga, bahwa emak tidak tau
kalau aku melihat dengan kepalaku sendiri, saat emak memberikan selendang
kesayangannya itu.
“Kamu kok gak bilang aku Umar? Padahal aku
punya tabungan lho!” Andi menyayangkan masalah ini sampai berlarut-larut.
“Aku tidak ingin merepotkan Kamu,
Andi”jawabku apa adanya.
“Tapi, ya setidaknya kamu juga ceritakan
kepadaku. Toh kamu adalah temanku juga.”
“Aku ngerti Kawan. Tapi aku ingin masalah ini
bisa selesai dengan sendirinya. Tanpa melibatkan orang lain.” Aku berusaha
tegar. Sekalipun hatiku begitu miris.
“Setidaknya, aku juga bisa dimintai
pendapat!” Andi berkata datar. Ada rasa ketidakpuasan dalam bicaranya. Aku paham
dengan kata hati Andi.
Sepulang sekolah. Aku dan Andi berencana akan
membuat sesuatu yang dapat menghasilkan uang. Aku bertekat untuk mengambil
kembali selendang emak. Tentu dengan usaha yang halal. Dan tidak sampai
mengganggu pelajaranku. Andi telah memberikan solusi yang tepat buatku. Awal
kemarau, adalah waktu yang tepat untuk bermain layang-layang. Selepas panen di
sawah, banyak anak-anak, teman sebaya, yang suka bermain layang-layang.
Kesempatan ini akan kumanfaatkan untuk menghasilkan uang. Ya, membuat
layang-layang bersama Andi dan menjualnya kepada mereka yang menghendaki.
Sebuah solusi keuangan yang membanggakan.
“Gimana. Sudah siap?” tanya Andi sore itu.
“Sudah. Ini aku bawa banyak bambu dan benang.
Terus, kertas layangannya, gimana?” aku balik bertanya.
“Jangan kwatir. Aku sudah siapkan di belakang
rumah. Nanati kita buat disana. Di bawah pohon nangka yang rindang!”.
“Baik. Mari kita mulai sekarang.” Ajakku.
Dengan semangat menggebu-gebu, aku dan Andi
membuat layang-layang. Kali ini tidak hanya untuk dimainkan sendiri. Tetapi
untuk dijual. Untuk menghasilkan uang. Dan untuk mengambil kembali selendang
emak yang digadaikan.
Hari ini, aku membuat layang-layang sebanyak
enam buah. Besok, akan dilanjutkan kembali. Membuat layang-layang
sebanyak-banyaknya. Untuk dijual kepada anak-anak di sekitar kampungku. Tidak
hanya itu, suatu saat nanti jika memungkinkan akan dijual dalam jumlah yang
banyak. Mudah-mudahan usaha ini dapat membantu biaya pendidikanku.
Satu minggu kemudian. Aku dan Andi membawa
banyak layang-layang ke tanah lapang. Bukan untuk dimainkan. Tetapi untuk
dijual. Tidak disangka, ternyata banyak juga yang membeli. Dalam waktu yang
tidak bagitu lama, layang-layang buatanku dan Andi telah habis terjual. Dan
dari berita mulut ke mulut, layang-layang made
in aku dan Andi banyak diminati.
Karena seimbang dan mudah diterbangkan. Sejak saat itu, layang-layang tersebut
banyak yang mencari.
Satu bulan kemudian. Aku telah mengumpulkan
banyak uang dari hasil menjual layang-layang. Aku dan Andi tidak peru lagi
minta orang tua untuk sekadar uang jajan. Bahkan aku sudah mempunyai simpanan
uang untuk menebus selendang emak.
“Mak, ini selendangnya,” suatu malam aku
membawa selendang biru punya emak yang digadaikan. Emak nampak terkejut. Raut
wajahnya mengerut. Tidak percaya.
“Kok,...” Emak tidak dapat melanjutkan
kata-katanya.
“Ya, Mak. Aku telah membayar hutang Emak sama
Lik Sri. Dari hasil layang-layang Mak!” jelasku bangga. Tentu saja emak bangga
dengan usahaku. Emak juga tidak habis pikir, kenapa aku bisa tau kalau
selendang emak digadaikan sama Lik Sri. Aku tidak menceritakannya.
Emak menerima selendang yang kuulurkan. Ia
lalu menciumnya. Ada semacam rasa rindu yang tak tertahanka. Air mata emak
mengembang. Air mata bahagia. Karena sekecil ini, anak semata wayang telah
dapat memberikan harapan yang luar biasa.
“Alhamdulillahi
Robbil ‘Alamin,”
desah emak dengan kebahagiaan yang memuncak.
****