Minggu, 22 Maret 2015

SELENDANG EMAK


Mendung masih bergelayut di ufuk. Rintik hujan telah sejak tadi berlalu. Tapi, suasana muram terus saja menghantui pikiranku. Pagi tadi aku dipanggil kepala sekolah. Sudah tiga bulan aku tidak membayar iuran sekolah. Andai saja bapak masih ada, tentu hal ini tidak akan terjadi. Atau paling tidak, ada harapan yang lebih besar untuk terus belajar dengan suasana yang nyaman.

“Kenapa kamu terlihat sedih?” tanya temanku, Andi, saat aku kembali dari kantor.
“Ah, gak kenapa kok. Aku gak sedih!” jawabku berusaha menutupi kepedihan hatiku.
“Yang benar, Umar. Kelihatan kok, kalau kamu sedih!” Andi berusaha mengorek masalahku. Aku dan Andi begitu bersahabat. Dekat sekali, bagai kakak dan adik. Kami selalu bermain bersama.
“Tidak apa-apa. Percayalah, aku baik-baik saja!”
“Ada apa kamu dipanggil ke kantor?”
“Tidak ada apa-apa. Biar saja, aku bisa mengatasi sendiri kok!” aku berusaha menekan perasaan mirisku. Aku tidak ingin membagi masalahku ini dengan temanku. Bahkan dengan Andi yang kuanggap sebagai keluargaku sendiri.
“Ya, udah kalau emang gak ada apa-apa” Andi akhirnya menyerah. Aku lega. Biarlah masalah ini akan aku selesaikan sendiri.

Aku belajar di SMP Negeri 1 Pantai Harapan. Sebuah lembaga sekolah yang berada di dekat pantai. Di sekitar sekolah banyak pohon kelapa yang tinggi menjulang. Angin sepoi-sepoi senantiasa menemani aku dan teman-teman dalam belajar. Gedung sekolah yang sangat megah untuk ukuran di kampungku. Aku senang belajar di sekolahku. Dan aku tidak ingin berhenti belajar, apapun yang akan terjadi. Bahkan, ketika bapakku harus meninggal, karena penyakit liver. Aku akan tetap bertekat untuk terus melanjutkan pendidikanku. Sampai aku meraih cita-citaku, seperti yang diinginkan oleh bapakku.

“Aku ingin jadi guru Pak,” suatu hari ketika bapakku menanyakan cita-citaku.
“Bagus tuh. Sebuah cita-cita yang sangat mulia.” Kata bapakku sambil membenahi jala di baranda rumah. “Jangan seperti Bapak, yang tidak tamat SD ini.”
“Ya Pak. Aku akan terus belajar. Bersekolah sampai setinggi-ingginya.” Balasku dengan semangat yang menggebu-gebu.
“Nah, itu baru anak Bapak yang hebat!” kata Bapak sambil mengacungkan jempol.

Bapak adalah semangatku. Bapak selalu memberikan nasihat agar aku rajin belajar. Jangan pernah menyerah apapun yang terjadi. Bahkan andai pun bapak telah tiada.

“Lhoo, maksud Bapak apa sih?” aku bertanya heran.
“Takdir itu bisa datang kapan saja. ‘Apabila telah datang ajal (kematian) mereka, maka tidak akan diwalkan atau pun diakhirkan sesaat pun’.” Bapak menjelaskan sambil menyitir sebuah ayat al Quran. Entah dari mana bapak mengetahui hal itu. Mungkin dari Ustadz yang tiap kesempatan memberikan ceramah di musholla dekat rumahku.

Sampai saat ini, satu tahun sudah bapak meninggalkan aku dan emak. Pergi selama-lamanya ke hadirat Allah swt. Emak adalah wonder womenku. Ia yang menggantikan tanggung jawab bapak. Emak yang mencari nafkah untuk aku makan, sekolah, dan kebutuhan lainnya. Emak juga yang bertekat untuk terus mengusahakan biaya sekolahku.

“Aku ingin bantu  Emak. Aku ingin bekerja. Mencari uang untuk Emak!” suatu hari aku berkata kepada Emak. Sesaat setelah pulang sekolah. Sesaat setelah Emak datang dari bekerja membantu tetangga di sawah. Upah dari membantu itulah yang dijadikan sebagai bahan untuk makan.
“Kamu boleh membantu Emak. Tapi nanti setelah kamu besar. Sekarang waktunya belajar. Dengan belajar yang rajin Emak sudah bangga. Emak sudah bahagia. Bantulah Emak dengan cara belajarmu yang rajin.” Betapa pun aku meminta ijin pada emak untuk membantu bekerja, emak selalu menolaknya. Emak tidak rela kalau anak semata wayang, bekerja dan mengorbankan pelajarannya. Emak, setali mata uang dengan bapak. Selalu mengedepankan pendidikan. Padahal mereka tidak memiliki pedidikan formal, layaknya orang kebanyakan. Tapi emak dan bapak tidak pernah surut untuk kemajuan pendidikan anaknya.

Malam hari selepas isya’. Aku membuka-buka buku mata pelajaran. Mengerjakan pekerjaan rumah. Atau membaca pelajaran yang telah diajarkan di sekolah. Alhamdulillah, kemampuan berpikirku cukup baik. Sudah menjadi hal biasa, kalau aku mendapat ranking pertama. Aku juga sering kali mewakili sekolah dalam ajang lomba cerdas cermat. Aku termasuk siswa yang pintar.

Di sebelahku emak sedang mempersiapkan bahan-bahan panganan. Seperi biasa, kalau emak tidak bekerja di sawah atau di kebun tetangga, ia membuat jajanan untuk dijual. Dengan cara diajajakan dari satu rumah ke rumah lainnya. Jika jajan buatan emak laku, maka dapat digunakan untuk sekadar mengganjal perut. Tapi, kalau lagi sepi, maka aku dan emak harus lebih bersabar. Bersabar dalam menahan rasa lapar.

“Mak, aku belum bayar iuran sekolah.” Dengan berat hati aku berbicara kepada emak.
“O ya, Emak hampir lupa. Sudah nunggak berapa bulan?” tanya emak. Aku yakin emak bukan lupa. Tapi memang belum punya uang untuk membayarnya.
“Sudah tiga bulan Mak.” Jawabku. Kulihat di wajah emak ada mendung. Menggelantung bagai mau turun hujan. Aku sedih. Aku paham betul kalau emak tidak punya uang. Tapi emak orang yang tidak pantang menyerah. Tidak lekas putus asa.
“Emak usahakan besok.” Kata emak datar.
“Dapat uang dari mana Mak?” aku bertanya heran.
“Sudah, ini urusan Emak. Kamu yang rajin belajar saja.” Emak tersenyum tulus. Tidak ada rasa dipaksakan.

Sebentar kemudian emak masuk kamar. Aku tidak tau untuk apa emak ke sana. Tidak lama kemudian emak keluar.

“Emak mau ke rumah Lik Sri, sebentar,” sambil terus keluar menerobos gelapnya malam.
“Emak mau kemana?” aku mencoba mengejar emak. Tapi emak sudah hilang di kegelapan. Menuju rumah Lik Sri. Ada apa gerangan? Aku juga kurang paham.

Rumah Lik Sri tidak terlalu jauh dari rumahku. Hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Emak sudah terlihat duduk di ruang tamu rumah Lik Sri. Rumah yang sangat mewah. Ada pot bunga warna warni di teras. Sofa lembut menghiasi ruang tamu. Di sofa itulah emak duduk ditemui oleh Lik Sri. Orang yang selalu ada untuk membantu. Lik Sri senantiasa siap untuk membantu orang yang memerlukan bantuan. Ia dan suaminya adalah pegusaha sukses. Tapi mereka juga dermawan.

“Ada apa Mak Umar, malam-malam datang ke sini?” Lik Sri bertanya dengan senyumnya yang khas.
“Anu Lik Sri. Ehm....” emak tidak melanjutkan kata-katanya.
“Katakan saja. Siapa tau saya bisa membantu!” Lik Sri meyakinkan.
“Maaf Lik Sri. Saya perlu uang untuk membayar iuran sekolah Umar.”
“Oh, itu tah? Berapa yang Mak Umar perlukan? Mungkin saya punya.”
“Seratus lima puluh ribu Lik Sri.” Sahut emak sambil mengeluarkan selendang sutra biru dari balik baju. “Ini selendang pemberian Bapak sebagai jaminannya.”
“Tidak perlu itu Mak Umar. Tidak apa-apa kok!”
“Saya tahu Lik Sri. Tapi ini adalah bentuk tanggung jawab saya.”

Sebenarnya Lik Sri tidak meminta jaminan itu. Bahkan ia terus membujuk emak supaya selendang sutra biru itu dibwa pulang. Tapi emak juga bersikokoh. Bahwa itu suatu bentuk tanggung jawab. Jika nanati punya uang, emak akan mengembalikannya dan akan mengambil kembali selendangnya.

Buru-buru aku kembali ke rumah. Pulang dan langsung masuk ke kamar. Di kamar aku manangis sesegukan. Air mata serasa tumpah. Tak terbendung membanjiri basah bantalku. Hatiku begitu terharu. Emak harus menggadaikan selendang pemberian bapak untuk membayar biaya sekolahku. Apa nantinya yanga akan aku berikan sabagai balasan? Apa aku harus berhenti sekolah? Pasti emak akan marah kalau aku harus berhenti sekolah. Sekalipun alasannya untuk membantu emak. Karena pengorbana emak hanya agar aku tetap sekolah.

Keesokan harinya emak memberikan uang untuk bayar iuran. Aku sudah tau semuanya. Tapi aku tidak mungkin mengatakannya. Biarlah aku pendam sendiri. Aku hanya bertekat untuk membantu emak semampuku. Entah apa caranya, yang penting halal.

“Mak, aku berangkat Mak.” Pamitku pagi itu. “Assalamu’alaaikum.”
“Wa’alaikum salam. Hati-hati, dan langsung dibayarkan uangnya!”
“Ya Mak.” Jawabku sambil terus melangkah menuju rumah Andi. Aku dan Andi selalu berangkat ke sekolah bersam-sama.

Sambil berjalan menuju sekolah, aku curhat sama Andi. Aku ceritakan bahwa emak menggadaikan selendang pemberian almarhum bapak untuk membayar iuran sekolahku. Aku ceritakan juga, bahwa emak tidak tau kalau aku melihat dengan kepalaku sendiri, saat emak memberikan selendang kesayangannya itu.

“Kamu kok gak bilang aku Umar? Padahal aku punya tabungan lho!” Andi menyayangkan masalah ini sampai berlarut-larut.
“Aku tidak ingin merepotkan Kamu, Andi”jawabku apa adanya.
“Tapi, ya setidaknya kamu juga ceritakan kepadaku. Toh kamu adalah temanku juga.”
“Aku ngerti Kawan. Tapi aku ingin masalah ini bisa selesai dengan sendirinya. Tanpa melibatkan orang lain.” Aku berusaha tegar. Sekalipun hatiku begitu miris.
“Setidaknya, aku juga bisa dimintai pendapat!” Andi berkata datar. Ada rasa ketidakpuasan dalam bicaranya. Aku paham dengan kata hati Andi.

Sepulang sekolah. Aku dan Andi berencana akan membuat sesuatu yang dapat menghasilkan uang. Aku bertekat untuk mengambil kembali selendang emak. Tentu dengan usaha yang halal. Dan tidak sampai mengganggu pelajaranku. Andi telah memberikan solusi yang tepat buatku. Awal kemarau, adalah waktu yang tepat untuk bermain layang-layang. Selepas panen di sawah, banyak anak-anak, teman sebaya, yang suka bermain layang-layang. Kesempatan ini akan kumanfaatkan untuk menghasilkan uang. Ya, membuat layang-layang bersama Andi dan menjualnya kepada mereka yang menghendaki. Sebuah solusi keuangan yang membanggakan.

“Gimana. Sudah siap?” tanya Andi sore itu.
“Sudah. Ini aku bawa banyak bambu dan benang. Terus, kertas layangannya, gimana?” aku balik bertanya.
“Jangan kwatir. Aku sudah siapkan di belakang rumah. Nanati kita buat disana. Di bawah pohon nangka yang rindang!”.
“Baik. Mari kita mulai sekarang.” Ajakku.

Dengan semangat menggebu-gebu, aku dan Andi membuat layang-layang. Kali ini tidak hanya untuk dimainkan sendiri. Tetapi untuk dijual. Untuk menghasilkan uang. Dan untuk mengambil kembali selendang emak yang digadaikan.

Hari ini, aku membuat layang-layang sebanyak enam buah. Besok, akan dilanjutkan kembali. Membuat layang-layang sebanyak-banyaknya. Untuk dijual kepada anak-anak di sekitar kampungku. Tidak hanya itu, suatu saat nanti jika memungkinkan akan dijual dalam jumlah yang banyak. Mudah-mudahan usaha ini dapat membantu biaya pendidikanku.

Satu minggu kemudian. Aku dan Andi membawa banyak layang-layang ke tanah lapang. Bukan untuk dimainkan. Tetapi untuk dijual. Tidak disangka, ternyata banyak juga yang membeli. Dalam waktu yang tidak bagitu lama, layang-layang buatanku dan Andi telah habis terjual. Dan dari berita mulut ke mulut, layang-layang made in aku dan Andi banyak diminati. Karena seimbang dan mudah diterbangkan. Sejak saat itu, layang-layang tersebut banyak yang mencari.

Satu bulan kemudian. Aku telah mengumpulkan banyak uang dari hasil menjual layang-layang. Aku dan Andi tidak peru lagi minta orang tua untuk sekadar uang jajan. Bahkan aku sudah mempunyai simpanan uang untuk menebus selendang emak.

“Mak, ini selendangnya,” suatu malam aku membawa selendang biru punya emak yang digadaikan. Emak nampak terkejut. Raut wajahnya mengerut. Tidak percaya.
“Kok,...” Emak tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
“Ya, Mak. Aku telah membayar hutang Emak sama Lik Sri. Dari hasil layang-layang Mak!” jelasku bangga. Tentu saja emak bangga dengan usahaku. Emak juga tidak habis pikir, kenapa aku bisa tau kalau selendang emak digadaikan sama Lik Sri. Aku tidak menceritakannya.

Emak menerima selendang yang kuulurkan. Ia lalu menciumnya. Ada semacam rasa rindu yang tak tertahanka. Air mata emak mengembang. Air mata bahagia. Karena sekecil ini, anak semata wayang telah dapat memberikan harapan yang luar biasa.

Alhamdulillahi Robbil  ‘Alamin,” desah emak dengan kebahagiaan yang memuncak.

****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar