Satu persatu
mereka meninggalkanku. Terasa sesak di dada, ketika aku harus merelakan mereka
untuk pergi. Pergi dengan kehidupan mereka sendiri. Pergi untuk mandiri.
Membangun mahligai rumah tangga sendiri. Mendirikan tata bangun cinta yang
abadi. Bahkan pergi untuk tidak kembali lagi.
Suamiku juga telah
pergi. Untuk selamanya. Karena sebuah tragedi. Ia meninggalkanku sendiri,
karena sebuah insiden tabrak lari. Tentu hal ini akan meninggalkan kesedihan hati
tersendiri.
"Bu, Ayah berangkat
ya," pamit suamiku kala itu. Pagi-pagi di hari itu, suamiku terlihat
gembira. Entahlah, tidak seperti biasanya, ia mencium keningku saat itu. Rasa
bahagia terpancar dari wajahnya yang begitu cerah.
"Ya, Yah.
Hati-hati di jalan." Aku menjawab dengan penuh luapan perasaan. Jika tidak
dapat aku tahan, rasanya titik air mataku mulai mengembang. Hatiku semakin
tidak karuan. Haru menyeruak di ruang hatiku. "Ada apa gerangan?"
Itulah yang selalu terjabar dalam hatiku.
Benar saja.
Berselang dua atau tiga jam kemudian, terdengar kabar, kalau suamiku
kecelakaan. Tabrak lari, begitu informasi yang aku dengar. Pada saat itu,
hatiku hancur. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Penglihatanku berkunang-kunang.
Aku ambruk bersama tangis yang tidak tertahan.
Begitulah,
orang-orang yang aku cintai pergi satu demi satu. Masih terngiang indah di
telingaku, celoteh ketiga anakku. Mereka memberi warna hidupku, menjadi indah
serupa bunga. Mereka bagai dian yang mengubarkan semangat hidup. Untuk terus
berpantang surut. Meniti dan menjalani waktu yang terkadang berliku.
"Bu,
bagaimana kalau Ibu tinggal bersamaku saja?" Suatu hari, Hardi, anakku
yang sulung mengajukan tawaran.
"Ya, Bu. Kan
enak kita ngumpul," tambah istrinya. Aku hanya tersenyum mendengar tawaran
mereka. Aku juga tahu, mereka tulus dengan perkataannya. Tapi, aku punya cara
lain, sebagai perwujudan cinta terhadap mereka.
"Bukan Ibu
tidak mau, Nak. Tapi Ibu lebih suka hidup di desa ini dengan kedua
adikmu," jawabku dengan lembut. Menjaga agar perasaannya tidak terabaikan.
Hardi adalah
anakku yang pertama. Sebelum ayahnya pergi, ia telah bekerja. Dan baru saja
berkeluarga. Menjadi sebuah persoalan ketika Hardi memutuskan untuk mengontrak
rumah sendiri. Anak yang baru kemarin sore aku timang-timang, kini sudah dewasa,
berkeluarga, dan mempunyai tempat tinggal sendiri. Air mata pun tumpah, saat
petama kali Hardi pamit untuk menempati rumah kontrakannya. Perasaanku begitu
membuncah, terseret kenangan masa lalu dalam peluk kebersamaan.
"Jaga diri
baik-baik ya, Nak!" Pesanku kepadanya.
"Ya Bu. Mohon
doa restu," jawab Hardi dengan rasa pilu.
Tinggallah aku
dengan kedua putriku. Anakku yang kedua, Yuni, duduk di bangku kuliah. Sebentar
lagi wisuda. Sementara yang bungsu, Putri, masih di SMA. Aku membiayai hidupku
dan anak-anakku dengan membuka toko. Dari hasil toko itulah, aku membiayai Yuni
kuliah, dan Putri sekolah. Sesekali dibantu Hardi yang kini bekerja di sebuah
kantor bank.
Tidak berapa lama
Yuni pun sudah lulus kuliah. Semula ia ingin mencari kerja. Tetapi Tuhan telah
menetapkan jodohnya. Seorang laki-laki lulusan pesantren melamarnya. Sekaligus
menikahinya, bahkan memboyongnya ke rumah barunya.
Perpisahan pun
tidak terhindarkan. Aku mengelus dada. Terasa ada perih yang menyayat. Untuk
kedua kalinya sang buah hati terlepas dari pangkuanku. Dari pelukanku.
Kebersamaan selama ini, berujung sebuah pisah. Tapi, itulah kenyataan yang
harus diterima oleh seorang ibu.
"Ibu, maafkan
Yuni, Bu! Yuni harus pergi," pamit Yuni anakku didampingi oleh suaminya.
"Pergilah
anakku," aku mencoba tegar, tersenyum. "Jadilah istri yang
baik," lanjutku bagai sebuah pesan.
"Insya Allah, Bu. Bersama restu
Ibu."
"Ibu rela,
Nak!"
Yuni pun melangkah
pergi diiringi suaminya. Aku masuk ke dalam kamar. Menumpahkan segala bentuk
keharuan yang tak terbendung. Aku menangis. Aku sedih. Sungguh, kebahagiaan ini
satu persatu menghilang. Lesap ditelan sang waktu.
Ataukah ini
sebentuk pengorbanan? Tidakkah seorang ibu harus bahagia jika anaknya sudah
dewasa? Mandiri? Dan menjadi orang yang sukses? Tidak ada orang tua, ibu, yang
tidak bahagia dengan kesuksesan putra-putrinya. Tapi, kepergian dan kesendirian
menjadi bentuk persoalan lain. Tentu harus direlakan, meski awalnya terbelenggu
oleh gerimis perasaan.
Putri pun tidak
lepas dari sebuah perpisahan. Si bungsu ini baru lulus SMA. Tapi, karena
kemampuan literasinya yang bagus, ia pun dipersunting oleh seorang dosen. Putri
pun lepas dari pangkuan. Lepas dari ayunan. Pergi jauh dengan pangeran yang ia
cintai. Semula Putri tidak mau pergi. Entahlah, mungkin karena jiwanya masi
labil. Baru lulus SMA. Tapi, kulihat Putri berjiwa dewasa.
"Ibu, Putri
ingin bersama Ibu," sesaat sebelum diajak pergi suaminya.
"Jangan
anakku. Kewajibanmu saat ini adalah melayani suami. Pergilah! Sewaktu-waktu
Engkau bisa menyambangi Ibu di sini."
Akhirnya putri pun
pergi. Bersama derai air mata. Suaminya pun menangis karena haru. Aku terus
memperhatikan Putri pergi. Hingga mobil Avanza itu menghilang di tikungan.
Sendiri. Aku
terlentang di pembaringan. Teringat suamiku. Betapa ia begitu perhatian dan
sayang kepadaku. Tak pernah marah. Tak pernah membentak. Hanya pernah suatu
kali, kulihat suamiku begitu marah. Masalahnya, karena aku telat dan tidak
mengerjakan shalat. Aku terlepas tidak mengerjakan shalat Ashar, karena suatu
pekerjaan. Membuat kue untuk persiapan lebaran. Sejak saat itu, aku tidak lagi
pernah telat, apalagi meninggalkan shalat. Alhamdulillah.
Sendiri. Malam
tinggal seperempat. Aku bersimpuh di atas sajadah merah. Memilin tasbih.
Mendoakan suamiku. Mendoakan putra-putriku.
"Ya Allah,
lindungi mereka dengan hidayah-Mu," di antara doa-doaku di setiap malamku.
Anak-anakku adalah mutiaraku. Mereka yang akan mendoakanku, saat aku telah
tiada. Mereka yang akan menjagaku, jika diriku telah renta. Dan, Alhamdulillah, mereka selalu
menyempatkan berkunjung ke rumahku. Saat waktu libur, atau waktu senggang
lainnya. Bahkan Hardi, seringkali membawa anaknya yang masih kecil. Aku bahagia
bermain-main dengan cucu-cucuku.
"Ibu, besok
aku ke rumah Ibu," Yuni berbicara kepadaku melalui handphone.
"Kamu kan
lagi hamil, Nak! Gak masalah dengan kehamilanmu?"
"Gak kok Bu.
Malah dokter bilang disuruh banyak gerak, katanya."
"Ya udah
kalau gitu."
"Terima
kasih, Bu!"
"Hati-hati di
jalan ya!"
"Ya,
Bu!"
Hari-hariku memang
sendiri. Tetapi hatiku merasa damai dengan keadaan anak-anakku. Kesendirianku
selalu terselubung oleh doa anak-anakku. Aku bangga menjadi ibu, meski pada
akhirnya aku bersimpuh dalam kesendirianku. Cintaku selalu menyertai mereka.
Tak pernah berhenti, meski hanya sejenak.
Aku bersama cinta
yang tak berujung. Kebahagiaan anakku, adalah kebahagiaan ibu. Percayalah,
cinta ibu tak pernah berakhir. Selamanya, kekal, dan abadi. The everlasting
mother's love.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar