Minggu, 22 Maret 2015

EVERLASTING MOTHER'S LOVE


Satu persatu mereka meninggalkanku. Terasa sesak di dada, ketika aku harus merelakan mereka untuk pergi. Pergi dengan kehidupan mereka sendiri. Pergi untuk mandiri. Membangun mahligai rumah tangga sendiri. Mendirikan tata bangun cinta yang abadi. Bahkan pergi untuk tidak kembali lagi.

Suamiku juga telah pergi. Untuk selamanya. Karena sebuah tragedi. Ia meninggalkanku sendiri, karena sebuah insiden tabrak lari. Tentu hal ini akan meninggalkan kesedihan hati tersendiri.

"Bu, Ayah berangkat ya," pamit suamiku kala itu. Pagi-pagi di hari itu, suamiku terlihat gembira. Entahlah, tidak seperti biasanya, ia mencium keningku saat itu. Rasa bahagia terpancar dari wajahnya yang begitu cerah.
"Ya, Yah. Hati-hati di jalan." Aku menjawab dengan penuh luapan perasaan. Jika tidak dapat aku tahan, rasanya titik air mataku mulai mengembang. Hatiku semakin tidak karuan. Haru menyeruak di ruang hatiku. "Ada apa gerangan?" Itulah yang selalu terjabar dalam hatiku.

Benar saja. Berselang dua atau tiga jam kemudian, terdengar kabar, kalau suamiku kecelakaan. Tabrak lari, begitu informasi yang aku dengar. Pada saat itu, hatiku hancur. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Penglihatanku berkunang-kunang. Aku ambruk bersama tangis yang tidak tertahan.

Begitulah, orang-orang yang aku cintai pergi satu demi satu. Masih terngiang indah di telingaku, celoteh ketiga anakku. Mereka memberi warna hidupku, menjadi indah serupa bunga. Mereka bagai dian yang mengubarkan semangat hidup. Untuk terus berpantang surut. Meniti dan menjalani waktu yang terkadang berliku.

"Bu, bagaimana kalau Ibu tinggal bersamaku saja?" Suatu hari, Hardi, anakku yang sulung mengajukan tawaran.
"Ya, Bu. Kan enak kita ngumpul," tambah istrinya. Aku hanya tersenyum mendengar tawaran mereka. Aku juga tahu, mereka tulus dengan perkataannya. Tapi, aku punya cara lain, sebagai perwujudan cinta terhadap mereka.
"Bukan Ibu tidak mau, Nak. Tapi Ibu lebih suka hidup di desa ini dengan kedua adikmu," jawabku dengan lembut. Menjaga agar perasaannya tidak terabaikan.

Hardi adalah anakku yang pertama. Sebelum ayahnya pergi, ia telah bekerja. Dan baru saja berkeluarga. Menjadi sebuah persoalan ketika Hardi memutuskan untuk mengontrak rumah sendiri. Anak yang baru kemarin sore aku timang-timang, kini sudah dewasa, berkeluarga, dan mempunyai tempat tinggal sendiri. Air mata pun tumpah, saat petama kali Hardi pamit untuk menempati rumah kontrakannya. Perasaanku begitu membuncah, terseret kenangan masa lalu dalam peluk kebersamaan.

"Jaga diri baik-baik ya, Nak!" Pesanku kepadanya.
"Ya Bu. Mohon doa restu," jawab Hardi dengan rasa pilu.


Tinggallah aku dengan kedua putriku. Anakku yang kedua, Yuni, duduk di bangku kuliah. Sebentar lagi wisuda. Sementara yang bungsu, Putri, masih di SMA. Aku membiayai hidupku dan anak-anakku dengan membuka toko. Dari hasil toko itulah, aku membiayai Yuni kuliah, dan Putri sekolah. Sesekali dibantu Hardi yang kini bekerja di sebuah kantor bank.

Tidak berapa lama Yuni pun sudah lulus kuliah. Semula ia ingin mencari kerja. Tetapi Tuhan telah menetapkan jodohnya. Seorang laki-laki lulusan pesantren melamarnya. Sekaligus menikahinya, bahkan memboyongnya ke rumah barunya.

Perpisahan pun tidak terhindarkan. Aku mengelus dada. Terasa ada perih yang menyayat. Untuk kedua kalinya sang buah hati terlepas dari pangkuanku. Dari pelukanku. Kebersamaan selama ini, berujung sebuah pisah. Tapi, itulah kenyataan yang harus diterima oleh seorang ibu.

"Ibu, maafkan Yuni, Bu! Yuni harus pergi," pamit Yuni anakku didampingi oleh suaminya.
"Pergilah anakku," aku mencoba tegar, tersenyum. "Jadilah istri yang baik," lanjutku bagai sebuah pesan.
"Insya Allah, Bu. Bersama restu Ibu."
"Ibu rela, Nak!"

Yuni pun melangkah pergi diiringi suaminya. Aku masuk ke dalam kamar. Menumpahkan segala bentuk keharuan yang tak terbendung. Aku menangis. Aku sedih. Sungguh, kebahagiaan ini satu persatu menghilang. Lesap ditelan sang waktu.

Ataukah ini sebentuk pengorbanan? Tidakkah seorang ibu harus bahagia jika anaknya sudah dewasa? Mandiri? Dan menjadi orang yang sukses? Tidak ada orang tua, ibu, yang tidak bahagia dengan kesuksesan putra-putrinya. Tapi, kepergian dan kesendirian menjadi bentuk persoalan lain. Tentu harus direlakan, meski awalnya terbelenggu oleh gerimis perasaan.

Putri pun tidak lepas dari sebuah perpisahan. Si bungsu ini baru lulus SMA. Tapi, karena kemampuan literasinya yang bagus, ia pun dipersunting oleh seorang dosen. Putri pun lepas dari pangkuan. Lepas dari ayunan. Pergi jauh dengan pangeran yang ia cintai. Semula Putri tidak mau pergi. Entahlah, mungkin karena jiwanya masi labil. Baru lulus SMA. Tapi, kulihat Putri berjiwa dewasa.

"Ibu, Putri ingin bersama Ibu," sesaat sebelum diajak pergi suaminya.
"Jangan anakku. Kewajibanmu saat ini adalah melayani suami. Pergilah! Sewaktu-waktu Engkau bisa menyambangi Ibu di sini."

Akhirnya putri pun pergi. Bersama derai air mata. Suaminya pun menangis karena haru. Aku terus memperhatikan Putri pergi. Hingga mobil Avanza itu menghilang di tikungan.

Sendiri. Aku terlentang di pembaringan. Teringat suamiku. Betapa ia begitu perhatian dan sayang kepadaku. Tak pernah marah. Tak pernah membentak. Hanya pernah suatu kali, kulihat suamiku begitu marah. Masalahnya, karena aku telat dan tidak mengerjakan shalat. Aku terlepas tidak mengerjakan shalat Ashar, karena suatu pekerjaan. Membuat kue untuk persiapan lebaran. Sejak saat itu, aku tidak lagi pernah telat, apalagi meninggalkan shalat. Alhamdulillah.

Sendiri. Malam tinggal seperempat. Aku bersimpuh di atas sajadah merah. Memilin tasbih. Mendoakan suamiku. Mendoakan putra-putriku.

"Ya Allah, lindungi mereka dengan hidayah-Mu," di antara doa-doaku di setiap malamku. Anak-anakku adalah mutiaraku. Mereka yang akan mendoakanku, saat aku telah tiada. Mereka yang akan menjagaku, jika diriku telah renta. Dan, Alhamdulillah, mereka selalu menyempatkan berkunjung ke rumahku. Saat waktu libur, atau waktu senggang lainnya. Bahkan Hardi, seringkali membawa anaknya yang masih kecil. Aku bahagia bermain-main dengan cucu-cucuku.

"Ibu, besok aku ke rumah Ibu," Yuni berbicara kepadaku melalui handphone.
"Kamu kan lagi hamil, Nak! Gak masalah dengan kehamilanmu?"
"Gak kok Bu. Malah dokter bilang disuruh banyak gerak, katanya."
"Ya udah kalau gitu."
"Terima kasih, Bu!"
"Hati-hati di jalan ya!"
"Ya, Bu!"

Hari-hariku memang sendiri. Tetapi hatiku merasa damai dengan keadaan anak-anakku. Kesendirianku selalu terselubung oleh doa anak-anakku. Aku bangga menjadi ibu, meski pada akhirnya aku bersimpuh dalam kesendirianku. Cintaku selalu menyertai mereka. Tak pernah berhenti, meski hanya sejenak.

Aku bersama cinta yang tak berujung. Kebahagiaan anakku, adalah kebahagiaan ibu. Percayalah, cinta ibu tak pernah berakhir. Selamanya, kekal, dan abadi. The everlasting mother's love.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar