JATUH KE DALAM
SUMUR
Saat itu, aku
sekitar berumur 3 atau 4 tahun. Aku bermain ke rumah teman. Masih tidak terlalu
jauh, tetangga, dan masih ada hubungan keluarga. Kakak iparku sedang bekerja di
rumah temanku itu. Dan aku asyik bermain-main dengan beberapa teman yang dekat
dari rumah tersebut.
Entah apa yang
membawa aku, beserta teman-teman ke area sebuah sumur yang pada saat itu airnya
lagi kering. Maklum lagi musim kemarau. Dimana-mana banyak sumur yang kering,
kecuali di tempat-tempat tertentu saja.
Sampailah pada
sebuah permainan yang berbahaya. Aku dan juga teman-teman yang lain main lempar
batu ke dalam sumur. Pada saat itu, aku masih belum menyadari arti bahaya itu.
Sumur tersebut tidak bertembok pinggirnya, hingga memang rawan kecelakaan. Saat
itu aku membawa batu yang cukup besar untuk ukuran umurku. Maka, pada waktu aku
lempar batu besar itu, pas tersangkut di sarung yang kuselempangkan di pundak.
Tak ayal, aku pun turut serta masuk ke dalam sumur. Untungnya sumur tersebut
tidak terlalu dalam. Sekitar 5 sampai 7 meter.
Aku tidak sadar
apa yang terjadi. Di dalam sumur, aku masih ingat, menangis sambil memanggil
kakak perempuanku.
"Kakak...kakak...tolong!"
Padahal saat
itu aku tidak bermain dengan kakakku. Mungkin sudah ngawur, yang terlintas dalam
benakku, wajah kakak yang pada saat itu ada entah dimana.
Teman-temanku
yang lain pun langsung buyar. Mungkin takut, atau entah seperti apa
perasaannya. Memberitahukan pada kakak iparku, kalau aku jatuh ke dalam sumur.
"Apa,
jatuh?"
Kakak iparku terkejut
dan langsung menuju lokasi kejadian. Tanpa berpikir dua kali, ia masuk ke
sumur, menolongku. Aku tidak mengalami luka yang serius. Hanya lecet-lecet, dan
mungkin ada tulang yang 'roga.'
Kabar tentang
aku yang jatuh ke sumur pun menyebar. Para tetangga banyak yang berdatangan.
Dengan beragam perasaan simpati. Pada saat itu lagi bulan puasa. Kata orang
rumah, 'locanan.' Bermain atau mengerjakan sesuatu harus hati-hati. Cenderung
berakibat celaka. Aku ditawari makan pisang.
"Enggak,
kan aku puasa."
Ibu baru pulang
dari sumber mencuci pakaian. Belum sampai di rumah sudah mendengar kabar kalau
aku jatuh. Tangis pun pecah saat itu juga. Sesampainya di sisiku, ibu yang
sedang menangis langsung merengkuh dan memelukku. Aku damai dalam pelukan kasih
ibu. Dalam hati aku berkata,
"Jangan
cemas Ibu, aku tidak apa-apa kok!"
Tentu saja,
sebagai orang tua akan merasa cemas akan kondisi anaknya yang jatuh. Pikir ibu,
aku jatuh di sumur dekat rumahku. Memang, sumur di dekat rumahku itu cukup
dalam. Sekitar 15 meteran lebih. Kalau jatuh di sana, mungkin aku tinggal nama
saja. Meninggal, menemui yang kuasa. Masya Allah.
Sekitar sepekan
aku tidak ke mana-mana. Masih trauma, dan sakit karena jatuh pun masih terasa.
Aku sudah dibawa ke tukang pijat. Katanya tidak apa-apa. Ya, Alhamdulillah,
kalau aku tidak apa-apa.
Tentu saja rasa
cemas ibu masih membekas hingga saat ini. Wajah itu begitu teduh, damai dalam
pelukan ibu. Aku tidak bisa melupakan suara lembut ibu. Juga elusan kasih
sayangnya yang tidak mungkin tergantikan oleh siapa pun juga.
Ya Allah,
ampunilah ibuku, ayahku, yang telah memberi bekal kehidupan padaku, hingga aku
besar dan dapat melakoni kehidupan ini. Amin!
Smp, 23/03/2015